Annisa Fitria, dosen Farmasi Fakultas Sains, menunjukkan pergeseran riset yang signifikan dalam lima tahun terakhir dari pengembangan sistem penghantaran obat berbasis lipid menuju eksplorasi nanoteknologi untuk aplikasi kosmetik dan kesehatan. Publikasi awalnya berfokus pada formulasi self-nano emulsifying drug delivery system (SNEDDS) propolis dan temulawak sebagai imunostimulan serta karakterisasi ekstrak tanaman antibakteri seperti Jatropha multifida. Namun, sejak 2022, risetnya bertransformasi ke pengembangan nanoliposom minyak atsiri untuk stimulasi pertumbuhan rambut, terbukti melalui publikasi 2025 tentang nanoliposom minyak esensial peppermint dan lavender yang menekankan inovasi formulasi untuk meningkatkan penetrasi folikel rambut. Selain itu, ia juga memperluas objek kajian ke bioprospeksi jamur endofit dari Houttuynia cordata sebagai agen antibakteri dan antikanker, serta isolasi bakteri Bacillus penghasil enzim dari saluran pencernaan ikan tambaqui untuk probiotik. Menariknya, ia juga merambah riset interdisipliner dengan pemetaan spasial paparan limbah menggunakan algoritma DBSCAN dan analisis yuridis pengelolaan investasi negara, menunjukkan fleksibilitas metodologis. Meskipun masih ada kesinambungan dengan kajian antibakteri dan antibiofilm seperti pada ekstrak daun bangun-bangun, fokus mutakhirnya jelas pada nanoteknologi penghantaran bahan alam, bioprospeksi mikroba, dan aplikasi komputasi spasial, meninggalkan dominasi formulasi SNEDDS dan toksisitas akut yang mendominasi publikasi sebelumnya.